Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (23/9), melanjutkan penurunan selama enam sesi berturut-turut di tengah meningkatnya harapan pemulihan pasokan dan perkembangan diplomasi Amerika Serikat dengan Iran. Brent bergerak di sekitar US$98,63 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$93,11 per barel. Penurunan beruntun ini menjadi yang terpanjang dalam lebih dari satu tahun, dengan harga Brent telah terkoreksi lebih dari 9% dalam periode tersebut.

Tekanan terhadap harga minyak meningkat setelah Arab Saudi mulai mempersiapkan pengoperasian kembali jalur pipa East-West yang mengalami kerusakan akibat serangan sebelumnya. Pipa tersebut memiliki kapasitas hingga 7 juta barel per hari dan memungkinkan Riyadh mengalihkan ekspor minyak melalui Laut Merah, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz yang menjadi jalur energi paling strategis dunia.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan hubungan AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan pejabat Amerika Serikat telah melakukan pertemuan yang “sangat produktif” dengan perwakilan Iran dan menyebut pembicaraan lanjutan masih akan dilakukan. Utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner disebut ikut dalam pembicaraan tersebut melalui jalur mediator.

Namun, pasar masih berhati-hati dalam menilai peluang tercapainya kesepakatan. Beberapa pelaku pasar mengingatkan bahwa optimisme terhadap diplomasi belum tentu mencerminkan perubahan nyata di lapangan, mengingat kedua negara masih memiliki perbedaan besar terkait sanksi, konflik regional, serta kendali atas Selat Hormuz.

Meski mengalami tekanan dalam beberapa sesi terakhir, harga minyak masih mencatat kenaikan lebih dari 60% sepanjang tahun akibat konflik Timur Tengah yang sebelumnya mengganggu jalur perdagangan energi global. Gangguan pasokan tersebut juga meningkatkan tekanan inflasi, terutama pada produk turunan minyak seperti bahan bakar.

Selain konflik AS-Iran, pasar juga memantau aktivitas kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman dan terus menargetkan infrastruktur energi Saudi. Investor juga menunggu data resmi persediaan minyak Amerika Serikat setelah laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan stok minyak mentah, meskipun persediaan bensin dan produk distilat mengalami penurunan. (asd)

Sumber: Newsmaker.id