Harga minyak kembali menguat pada hari Jumat (30/10) dan berada di jalur kenaikan bulanan keempat berturut-turut. Brent Desember berada di US$117,15 per barel, sementara WTI mencapai US$103,79 per barel. Pasar semakin mengantisipasi potensi eskalasi konflik AS-Iran setelah pemilu paruh waktu AS, terutama menyusul serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Ketegangan meningkat setelah UKMTO melaporkan sebuah kapal tanker di Selat Hormuz terkena alat peledak yang dipasang oleh sebuah perahu kecil. Selat tersebut merupakan jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk, sehingga kejadian tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dan menjaga premi risiko dalam harga minyak.
Upaya diplomasi masih berlangsung setelah mediator Qatar kembali ke Teheran untuk mendorong kesepakatan antara AS dan Iran. Namun, Iran belum memberikan tanggapan terhadap surat Wakil Presiden AS JD Vance dan menegaskan bahwa perjanjian harus memenuhi sejumlah persyaratan dari Teheran. Kondisi ini membuat pasar menilai peluang eskalasi masih cukup besar.
Risiko geopolitik juga meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang sejumlah fasilitas di Arab Saudi, termasuk kilang Ras Tanura, Rabigh, dan fasilitas produksi Abqaiq. Arab Saudi kemudian melaporkan berhasil mencegat rudal yang diluncurkan Houthi menuju wilayah kerajaan.
Analisis Newsmaker: Harga minyak masih mendapat dukungan kuat dari meningkatnya risiko gangguan pasokan dan membuka jalur diplomasi AS-Iran. Dengan pemilu AS dan perkembangan konflik Timur Tengah menjadi perhatian utama, volatilitas minyak berpotensi tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan. (srh)
Source: Newsmaker.id
