Indeks Nikkei 225 membuka perdagangan Senin (19/10) dengan tekanan sekitar 2%, melanjutkan pelemahan setelah pekan sebelumnya mencatat koreksi tajam. Sentimen pasar masih dibayangi aksi jual saham teknologi global serta meningkatnya kekhawatiran terhadap valuasi dan kebutuhan pendanaan perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan.
Tekanan dari Wall Street turut memengaruhi perdagangan Asia setelah saham semikonduktor AS mengalami aksi jual berkepanjangan. Investor mulai lebih berhati-hati terhadap perusahaan teknologi dengan valuasi tinggi dan tingkat utang besar, terutama di tengah prospek suku bunga global yang masih berpotensi bertahan tinggi.
Di sisi lain, pelemahan harga minyak dan penurunan yield obligasi memberikan sedikit dukungan bagi sentimen pasar. Namun, faktor tersebut belum cukup mengimbangi tekanan dari sektor teknologi, sehingga investor masih memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko pada awal pekan.
Pergerakan Nikkei selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh arah saham teknologi global, perkembangan yield obligasi, serta ekspektasi kebijakan moneter AS. Selama kekhawatiran terhadap sektor AI dan semikonduktor belum mereda, indeks berpotensi tetap bergerak volatil dengan tekanan jual yang masih terbuka.
Dampak ke Emas dan Dolar
Untuk emas, tekanan pada pasar saham dapat meningkatkan permintaan safe haven sehingga cenderung positif bagi gold, terlebih jika yield Treasury ikut turun. Sementara dolar AS bisa mendapat dukungan dari sentimen risk-off, tetapi jika yield AS terus melemah, penguatan dolar bisa terbatas. Jadi kondisi ini sementara lebih jelas mendukung emas dibanding dolar.(CP)
Sumber: Newsmaker.id