Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026), setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam lima bulan. Minyak Brent turun 1,4% menjadi US$108,37 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,6% ke US$100,82 per barel. Penurunan ini terjadi meskipun konflik di Timur Tengah kembali memanas, karena pasokan minyak dari kawasan tersebut masih mengalir mendekati kondisi sebelum perang.
Ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian utama pasar energi. Sebuah helikopter Arab Saudi dilaporkan jatuh di dekat perbatasan Yaman, sementara kelompok Houthi menargetkan Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak penting di Arab Saudi. Selain itu, dua kapal tanker dilaporkan terkena serangan di kawasan Teluk Persia. Serangkaian insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan minyak dunia, terutama di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Namun, kekhawatiran gangguan pasokan mulai berkurang setelah Amerika Serikat menyatakan bahwa pasukannya telah membantu mengawal pengiriman lebih dari 100 juta barel minyak melewati Selat Hormuz sepanjang pekan sebelumnya. Kelancaran distribusi ini memberikan keyakinan bahwa minyak dari Timur Tengah masih dapat menjangkau pasar internasional. Meski demikian, harga Brent telah melonjak hampir 80% sepanjang tahun ini akibat konflik Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina yang mengganggu pasokan energi global.
Analis pasar minyak senior Sparta Commodities, June Goh, menilai harga minyak saat ini berada di antara dua tekanan yang saling berlawanan, yaitu meningkatnya risiko geopolitik dan membaiknya aliran pasokan dari Timur Tengah. Menurutnya, kondisi ekonomi global yang belum kuat membuat pasar kesulitan menerima harga minyak yang terlalu tinggi. Karena itu, Brent diperkirakan akan bergerak dalam kisaran terbatas di sekitar US$100 per barel. Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar seperti diesel masih berpotensi memperparah inflasi dan membebani perekonomian dunia.
Sementara itu, perkembangan perang Rusia-Ukraina turut menjadi perhatian investor. Presiden AS Donald Trump menyatakan pihaknya telah membuat kesepakatan ekspor diesel dengan Rusia dan menunda sanksi tambahan untuk menjaga peluang perundingan damai. Presiden Rusia Vladimir Putin juga dilaporkan mengusulkan pembicaraan bersama Trump dan Presiden China Xi Jinping pada bulan depan, meskipun belum ada kesepakatan resmi mengenai pertemuan tersebut. Ke depan, harga minyak berpotensi kembali menguat apabila konflik mengganggu jalur ekspor utama. Sebaliknya, jika distribusi minyak tetap lancar dan upaya perdamaian menunjukkan kemajuan, tekanan penurunan harga minyak berpeluang berlanjut.
Sumber: Newsmaker.id