Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga Jepang masih dapat berlanjut apabila tekanan inflasi meningkat. Pernyataan tersebut disampaikan setelah BoJ menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 1,25%, tertinggi dalam 31 tahun. Ueda menegaskan bahwa bank sentral tidak menutup berbagai kemungkinan terkait langkah kebijakan berikutnya.
Ueda mengatakan keputusan mengenai kenaikan suku bunga besar maupun kenaikan secara berturut-turut akan bergantung pada perkembangan harga dan risiko inflasi Jepang. Ia menyebut BoJ ingin mengambil langkah lebih awal untuk mencegah inflasi bergerak terlalu tinggi, sehingga bank sentral tidak perlu melakukan pengetatan agresif yang berpotensi memberikan tekanan besar terhadap ekonomi.
Menurut Ueda, Jepang saat ini berada dalam fase yang membutuhkan pengamatan terhadap berbagai data ekonomi secara hati-hati. Namun, ia menegaskan bahwa pendekatan hati-hati bukan berarti BoJ akan bergerak lambat. Bank sentral akan mempertimbangkan perkembangan inflasi, kondisi keuangan, serta dampak kenaikan suku bunga terhadap perekonomian sebelum menentukan langkah berikutnya.
Ueda juga menyoroti bahwa inflasi inti Jepang saat ini mulai mendekati target 2%. Kenaikan upah dan meningkatnya ekspektasi inflasi jangka menengah hingga panjang menjadi faktor yang memperkuat tekanan harga. Selain itu, ia memperingatkan bahwa kenaikan harga energi yang kembali terjadi akibat konflik Timur Tengah dapat meningkatkan tekanan inflasi melalui biaya produksi hingga harga konsumen.
Dalam kesempatan tersebut, Ueda menjelaskan bahwa kebijakan bank sentral global, termasuk Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa, juga dipengaruhi faktor serupa seperti tekanan inflasi dari konflik Timur Tengah dan meningkatnya investasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan BoJ tidak diarahkan untuk mengendalikan nilai tukar yen, melainkan menjaga stabilitas harga dan ekonomi Jepang.
Analisis Newsmaker: Pernyataan Kazuo Ueda menunjukkan bahwa BoJ mulai membuka ruang untuk normalisasi kebijakan lebih lanjut, tetapi tetap menghindari sinyal pengetatan yang terlalu agresif. Pasar akan mencermati apakah inflasi Jepang benar-benar stabil di sekitar target 2% serta bagaimana perkembangan upah dan harga energi. Ke depan, arah yen dan pasar Jepang akan sangat bergantung pada seberapa cepat BoJ menaikkan suku bunga dibandingkan bank sentral besar lainnya. (arl)
Sumber : Newsmaker.id