Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Kamis (10/9), memperpanjang reli setelah Brent menembus level US$100 per barel pada sesi sebelumnya. Brent naik sekitar 0,4% menjadi US$101,61 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,51% ke US$96,54.

Kenaikan harga masih didorong kekhawatiran terhadap gangguan pasokan setelah Iran dan Amerika Serikat meningkatkan serangan terhadap aktivitas pelayaran. Brent telah melonjak hampir 30% dari level terendah awal Agustus karena harapan tercapainya kesepakatan permanen antara Washington dan Teheran terus memudar.

Ketegangan kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan terhadap Pickaxe Mountain, sementara Iran menyatakan telah menyerang sejumlah kapal di sekitar Selat Hormuz. Garda Revolusi Iran juga memperingatkan bahwa respons akan ditingkatkan apabila serangan AS terus berlanjut.

Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian pasar karena arus minyak melalui jalur tersebut masih jauh di bawah level sebelum perang. Tekanan juga meningkat di Laut Merah setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, memperbesar risiko gangguan energi regional.

Meski Brent telah menembus US$100, kelanjutan reli dinilai sangat bergantung pada permintaan China. Negara importir minyak terbesar dunia itu meningkatkan pembelian dalam beberapa pekan terakhir setelah sebelumnya menekan impor dan menggunakan persediaan domestik.

Analisa Newsmaker: fundamental minyak masih cenderung bullish karena gangguan Hormuz, konflik AS–Iran, dan meningkatnya pembelian China menjaga pasar tetap ketat. Jika permintaan China terus menguat bersamaan dengan memburuknya gangguan pasokan, Brent berpeluang bergerak lebih tinggi. Sebaliknya, penurunan impor China dapat menjadi faktor utama yang membatasi reli minyak.(arl)

Sumber : Newsmaker.id