Poundsterling menguat ke level tertinggi sejak 29 Agustus pada perdagangan Kamis (10/9), didukung meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of England masih akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. GBP/USD naik sekitar 0,07% ke 1,3554, sementara EUR/USD turut menguat 0,08% ke 1,1639.

Penguatan sterling terjadi meskipun harga Brent telah bergerak di atas US$100 per barel akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap ekonomi Inggris yang sangat bergantung pada impor energi, sekaligus meningkatkan risiko inflasi.

Pasar saat ini memperkirakan sedikitnya dua kali kenaikan suku bunga BoE hingga Maret tahun depan, dengan peluang sekitar 40% untuk kenaikan ketiga. Ekspektasi tersebut lebih agresif dibandingkan proyeksi terhadap Federal Reserve, yang saat ini diperkirakan melakukan dua kali kenaikan dalam periode yang sama.

Dukungan terhadap pound juga datang dari inflasi Inggris yang meningkat menjadi 2,9% pada Juli dari 2,6% sebelumnya. Namun, Gubernur BoE Andrew Bailey memperingatkan bahwa kenaikan bunga tambahan belum tentu dilakukan, terutama karena tingginya harga energi dan risiko fiskal menjelang Autumn Budget.

Sementara itu, dolar masih bergerak terbatas setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan buyback obligasi jangka panjang sebesar US$6 miliar. Pasar kini menunggu data PPI dan CPI AS untuk menentukan arah Dollar Index. Jika inflasi tidak turun signifikan, DXY berpotensi kembali menguji level 99.

Analisa Newsmaker: pound masih mendapat dukungan dari ekspektasi kebijakan BoE yang lebih hawkish dibandingkan The Fed. Namun, kenaikan harga minyak menjadi risiko utama karena dapat memperburuk inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi Inggris. Dalam jangka pendek, arah GBP/USD akan sangat bergantung pada data inflasi AS dan seberapa agresif BoE memberi sinyal pengetatan tambahan. (arl)

Sumber : Newsmaker.id