Harga minyak Brent melonjak lebih dari 2% pada pembukaan perdagangan Asia, Senin, 31 Agustus 2026, setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat di kawasan Selat Hormuz. Brent crude futures naik sekitar 2,52% menjadi US$90,32 per barel, sementara WTI menguat sekitar 2,41% menjadi US$85,41 per barel. Lonjakan tersebut sekaligus membawa Brent kembali ke atas US$90 setelah harga minyak mengalami tekanan pada akhir pekan lalu.

Pemicu utama kenaikan datang setelah pasukan AS menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak pada Minggu. Seorang pejabat AS mengatakan pasukan Garda Revolusi Iran terlihat sedang mempersiapkan peluncur yang membawa ranjau laut menuju Selat Hormuz. Serangan tersebut menjadi aksi militer AS pertama yang diketahui terhadap Iran sejak akhir Juli dan langsung menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap keamanan jalur pengiriman energi terpenting dunia tersebut.

Ketegangan semakin meningkat setelah Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke dua pangkalan militer AS di Yordania. Garda Revolusi Iran juga menyatakan serangan AS di Pulau Larak menimbulkan korban dan berjanji memberikan balasan. Meski laporan awal menyebut sebagian besar rudal yang menuju pasukan AS berhasil dicegat dan belum menimbulkan dampak signifikan, pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke harga minyak.

Perkembangan terbaru tersebut membalik sentimen yang mendominasi pasar pada akhir pekan lalu. Sebelumnya, harga minyak tertekan oleh rumor kemungkinan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz serta nada hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh yang meningkatkan kekhawatiran terhadap permintaan energi. Kini perhatian investor kembali bergeser kepada risiko gangguan pasokan, mengingat sebelum konflik sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Lonjakan Brent pada pembukaan Asia menunjukkan bahwa faktor geopolitik kembali mengambil alih sentimen pasar dari isu kebijakan The Fed. Selama ketegangan AS–Iran meningkat dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz kembali dipertanyakan, harga minyak berpotensi mempertahankan premi risikonya. Namun, arah selanjutnya tetap sangat sensitif terhadap respons Iran, langkah militer AS berikutnya, serta apakah jalur diplomasi untuk membuka kembali Hormuz masih dapat dipertahankan.(CP)

Sumber : Newsmaker.id