Harga emas mengawali perdagangan Asia pada Senin, 31 Agustus 2026, dengan kecenderungan masih tertekan setelah mengalami aksi jual tajam pada akhir pekan lalu. Sentimen pasar terhadap logam mulia belum sepenuhnya pulih karena investor masih mencerna perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat setelah pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole.

Tekanan terbesar terhadap emas berasal dari pernyataan Warsh yang menegaskan bahwa inflasi AS masih terlalu tinggi dan belum bergerak cukup meyakinkan menuju target The Fed sebesar 2%. Pesan tersebut membuat pasar kembali meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga. Setelah pidato Warsh, probabilitas kenaikan bunga pada September melonjak menjadi sekitar 58% dari sekitar 36% sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut turut mendorong dolar AS dan yield Treasury lebih tinggi. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sementara kenaikan yield meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil. Kombinasi tersebut menjadi penyebab utama emas mengalami penurunan lebih dari 3% pada perdagangan Jumat.

Selain faktor The Fed, meredanya sebagian ketegangan geopolitik di Selat Hormuz juga mengurangi kebutuhan terhadap aset safe haven. Upaya diplomasi untuk meningkatkan kembali lalu lintas kapal melalui jalur tersebut membuat premi risiko geopolitik sedikit mereda, meskipun kondisi kawasan masih jauh dari normal.

Pergerakan emas pada awal sesi Asia masih dibayangi efek lanjutan dari Jackson Hole. Selama pasar mempertahankan ekspektasi bahwa The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga dan dolar tetap kuat, emas berpotensi menghadapi tekanan. Namun, setelah koreksi tajam akhir pekan lalu, peluang konsolidasi maupun rebound teknikal tetap terbuka. Fokus pasar selanjutnya akan beralih ke rangkaian data ekonomi dan tenaga kerja AS yang dapat menentukan apakah ekspektasi hawkish The Fed akan bertahan atau kembali melemah.(CP)

Sumber : Newsmaker.id