Harga minyak bergerak relatif stabil setelah mencatat kenaikan selama dua sesi sebelumnya. Brent untuk pengiriman Desember bertahan di atas US$102 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$93 per barel, seiring pasar menimbang pemulihan pasokan Timur Tengah dengan meningkatnya kembali risiko geopolitik.
Perhatian investor tertuju pada kemungkinan penambahan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Pentagon dilaporkan mempertimbangkan pengerahan satu gugus tugas kapal induk tambahan serta sekitar 10.000 personel Angkatan Laut dan Marinir, yang dapat meningkatkan risiko eskalasi apabila konflik dengan Iran kembali meluas.
Pergerakan minyak masih sangat volatil karena arus pasokan Timur Tengah mulai menunjukkan pemulihan, tetapi belum sepenuhnya aman. Brent tercatat masih hampir 70% lebih tinggi sepanjang tahun, sementara persediaan yang rendah membuat pasar tetap sensitif terhadap gangguan baru.
Risiko pelayaran turut meningkat setelah UK Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil tidak dikenal ketika melintasi Selat Hormuz. Insiden tersebut kembali menyoroti kerentanan salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia.
Di sisi lain, pasokan minyak mentah kawasan sebelumnya dilaporkan telah mendekati kondisi sebelum perang, meskipun pasokan produk bahan bakar masih relatif ketat. Iran juga disebut tidak melakukan pemuatan minyak mentah ke kapal tanker sepanjang September, menambah indikasi bahwa akses ekspornya tetap terbatas.
Analisis Newsmaker: Pasar minyak kini berada di antara pemulihan pasokan dan meningkatnya kembali premi risiko geopolitik. Selama ketegangan AS–Iran dan keamanan Selat Hormuz belum menunjukkan perbaikan yang jelas, harga minyak berpotensi tetap bertahan tinggi dan mudah mengalami lonjakan apabila muncul gangguan baru terhadap infrastruktur atau jalur pengiriman energi.(gn)
Sumber: Newsmaker.id