Harga minyak bergerak stabil setelah sebelumnya mengalami tekanan, seiring tanda-tanda pemulihan pasokan dari Timur Tengah. Brent berada di sekitar US$95,68 per barel, sementara WTI di US$91,82 per barel. Pemulihan aliran minyak Arab Saudi melalui jalur alternatif di luar Selat Hormuz membantu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Rata-rata ekspor minyak mentah dari Timur Tengah selama 10 hari terakhir telah mencapai sekitar 17,5 juta barel per hari, atau 98% dari level sebelum perang. Arab Saudi juga kembali mengoperasikan East-West pipeline dengan aliran sekitar 3,5 juta barel per hari, sehingga sebagian pengiriman minyak dapat dilakukan tanpa bergantung sepenuhnya pada Selat Hormuz.
Meski pasokan mulai membaik, harga minyak masih berada dalam tren penguatan bulanan akibat konflik AS-Iran yang belum sepenuhnya mereda. Risiko terhadap jalur pelayaran, keterbatasan produk olahan, serta potensi pembatasan ekspor diesel masih menjadi faktor yang menjaga volatilitas pasar energi.
Di Amerika Serikat, pemerintah kembali menyiapkan pelepasan hingga 40 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk menambah pasokan. Sementara itu, data American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat sekitar 1 juta barel pada pekan lalu, dengan stok di Cushing juga mengalami kenaikan.
Analisis Newsmaker: Pasar minyak kini menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Pemulihan ekspor dan tambahan pasokan dari AS berpotensi meredakan tekanan harga, tetapi risiko geopolitik dan ketatnya pasar produk olahan masih menjadi penopang. Investor juga akan mencermati keputusan OPEC+ terkait kuota produksi November serta perkembangan pasokan melalui Selat Hormuz.(gn)
Sumber: Newsmaker.id