AS Perketat Tekanan Iran, Minyak Siap Catat Kenaikan Pekan Kedua
Harga Minyak bergerak melemah tipis pada perdagangan Jumat (21/8) setelah menyentuh level tertinggi dalam satu bulan, namun tetap berada di jalur mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Brent turun 0,2% ke US$93,57 per barel, sementara WTI melemah 0,4% ke US$86,50 per barel.
Meski terkoreksi di akhir pekan, Brent masih berpotensi mencatat kenaikan lebih dari 5% sepanjang minggu. Sentimen utama Pasar masih berasal dari kebuntuan konflik AS-Iran terkait Selat Hormuz yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian, sehingga risiko gangguan pasokan Minyak global tetap tinggi.
Tekanan terhadap Iran semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam menerapkan sanksi ekonomi baru yang disebut sebagai yang paling ketat sepanjang sejarah. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menegaskan bahwa Teheran akan menghadapi “sanksi terberat” sebagai bagian dari upaya Washington mendorong tercapainya kesepakatan damai.
Namun, Iran menolak tekanan tersebut, sementara China sebagai salah satu pembeli utama Minyak Iran juga tidak menunjukkan tanda akan mengikuti langkah AS. Belum ada rincian pasti mengenai bentuk sanksi terbaru tersebut, mengingat Washington sebelumnya telah membatasi ekspor Minyak Iran dan memberlakukan blokade laut terhadap negara tersebut.
Kondisi di Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama Pasar energi. Data pelayaran menunjukkan aktivitas kapal komersial di jalur strategis tersebut masih jauh di bawah level sebelum konflik, meskipun AS menyatakan jalur tersebut tetap terbuka. Iran sendiri menyatakan akan mempertahankan pembatasan hingga Amerika Serikat memenuhi ketentuan dalam kesepakatan sementara yang telah berakhir.
Analisis Newsmaker: fundamental Minyak masih cenderung bullish karena risiko pasokan Timur Tengah tetap menjadi katalis utama. Brent yang bertahan di atas US$93 per barel menunjukkan Pasar masih memasukkan premi risiko geopolitik. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan sanksi AS terhadap Iran dan potensi respons dari negara-negara seperti China. Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, peluang Minyak menguji area US$95 per barel semakin terbuka.(arl)
Sumber: Newsmaker.id
Analisis Komprehensif Pasar Minyak
Pasar Minyak dunia mengalami dinamika yang kompleks dipengaruhi faktor supply-demand, geopolitik, dan kebijakan energi global.
Faktor Penentu Harga Minyak
- Kebijakan OPEC+: Kuota produksi dari kartel Minyak mempengaruhi supply global.
- Data Inventori AS: Laporan mingguan EIA menjadi indikator penting demand.
- Tensi Timur Tengah: Stabilitas kawasan produsen Minyak utama.
- Permintaan Global: Pemulihan ekonomi pasca-pandemic mempengaruhi konsumsi.
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam trading dan investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
analisis fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
Analisis Teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.