Inflasi di Tokyo melambat ke laju paling lambat dalam satu tahun terakhir, sebuah perkembangan yang sejalan dengan pandangan Bank of Japan (BoJ) bahwa tekanan harga mulai mereda, dan sikap hati-hati mereka dalam mengurangi stimulus.

Harga konsumen tidak termasuk makanan segar naik 2,3% pada bulan November dibandingkan tahun sebelumnya di ibu kota, sebagian besar disebabkan oleh turunnya harga listrik, gas, dan makanan olahan, menurut kementerian dalam negeri pada hari Selasa (5/12). Inflasi melambat dari 2,7% di bulan Oktober, dan berada di bawah perkiraan ekonom sebesar 2,4%.

Angka-angka di Tokyo merupakan indikator utama dari tren nasional dan menunjukkan bahwa pertumbuhan harga di negara tersebut juga melambat pada bulan lalu.

Data pada hari Jumat mendukung pandangan Gubernur BOJ Kazuo Ueda bahwa harga akan mereda, setelah akselerasi yang tidak terduga pada bulan sebelumnya. Perlambatan ini mungkin mendorong bank sentral untuk menunggu tanda-tanda lain bahwa target inflasi yang disertai kenaikan upah akan tercapai, sehingga mengurangi spekulasi pasar mengenai perubahan kebijakan yang akan dilakukan lebih awal.

Tren inflasi yang tidak mencakup harga pangan segar dan energi juga melambat menjadi 3,6%, dan terus melambat selama tiga bulan berturut-turut.

Dalam laporan prospek terbaru yang dirilis pada bulan Oktober, BOJ merevisi proyeksi indikator inflasi utama untuk tahun fiskal saat ini dan tahun depan menjadi 2,8%, yang berarti kenaikan harga selama tiga tahun berturut-turut melebihi target 2%. Namun, bank tersebut menetapkan perkiraan harga untuk tahun fiskal 2025 sebesar 1,7%, yang menyiratkan bahwa tingkat inflasi saat ini tidak akan bertahan selamanya. (Arl)

Sumber : Bloomberg